Viral Video Santri Tutup Telinga Ketika Dengar Musik, Gus Nadir: Itu Cuma Beda Pemahaman, Bukan Taliban

Alfanny - Selasa, 14 September 2021, 8:51 WIB

Nadirsyah HosenNadirsyah Hosen/Istimewa

FIXJAKARTA.COM.  Sejak kemarin, netizen dihebohkan oleh video viral yang memuat tayangan sejumlah santri menutup telinganya ketika mendengar musik.   Para santri tersebut tampak sedang berada di ruang tunggu menanti antrean vaksin. 

Sejumlah netizen pun mempertanyakan mengapa para santri tersebut menutup telinganya ketika musik diperdengarkan, bahkan sebagian netizen tersebut menyamakan sikap para santri tersebut dengan perilaku Taliban di Afghanistan yang mengharamkan musik. 

Intelektual NU, Gus Nadir, panggilan akrab Nadirsyah Hosen meminta netizen jangan cepat-cepat memvonis para santri tersebut sebagai Taliban. 

"Gak harus buru-buru dianggap kayak Taliban. Hukumnya mendengarkan musik itu ada ulama yang bilang haram, dan ada yang bolehin. Kita hormati saja," tandas Gus Nadir di akun twitternya @na_dirs pada Selasa 14 September 2021 sebagaimana dikutip FIXJAKARTA.COM. 

Menurut Gus Nadir beberapa dalil yang membolehkan musik antara lain bisa dilihat pada Kitab Nailul Awthar karya Syekh Yusuf Qaradhawi dan al-Fiqhul Islami karya Syekh Wahbah.

"Ulama yang bilang haram juga punya dasar rujukan. Pada titik ini ya kita saling hormat saja terhadap pilihan yang berbeda. Bagi yang bilang haram, mendengarkannya dianggap berdosa dan bisa membuat hafalan Quran menjadi lupa," sambungnya. 

Gus Nadir mengungkapkan tradisi para santri penghafal Qur'an yang mesti menjaga hafalan Qur'annya dan diulang-ulang terus.

"Jadi belum tentu semua santri yang gak mau dengar musik karena sdg menghafal Quran itu akibat menganggap musik haram.," tandas Gus Nadir. 

Justru Gus Nadir memuji sikap para santri di video yang menutup telinganya.

"Mereka tidak ngamuk atau memaksa musik dimatikan. Justru disana terlihat toleransi ustad dan santri untuk memilih menutup telinga dan menjaga diri ketimbang memaksakan paham mereka dengan cara kekerasan," lanjutnya. 

"Bukankah esensi toleransi ada di sana? Jadi jangan buru-buru mengaitkan mereka dengan paham Islam garis keras hanya karena mereka berbeda pemahaman," pungkas Gus Nadir. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot