Nama Jalan "Ataturk" Ditolak, Aktivis PCINU Turki Savran Billahi: Presiden Erdogan Saja Menghormati Mustafa Kemal Ataturk

Alfanny - Selasa, 19 Oktober 2021, 21:21 WIB

Mustafa Kemal AtaturkMustafa Kemal Ataturk/istimewa

FIXJAKARTA.COM.  Pro-kontra rencana penamaan "Ataturk" pada sebuah jalan di Jakarta oleh pemerintah dinilai sebagai kekurangpahaman masyarakat Indonesia terhadap sejarah bangsa Turki yang sangat menghormati Mustafa Kemal Ataturk sebagai "Bapak Bangsa Turki". 

Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia) PCINU Turki Savran Billahi mengungkapkan bahwa Presiden Erdogan yang dikenal berideologi "Islamis" saja sangat menghormati Mustafa Kemal Ataturk yang dikenal sebagai "Bapak Bangsa Turki". 

"Pada peringatan Hari Ataturk (Atatürk Anma Töreni), Presiden Erdogan bahkan mengatakan "Prestasi ekonomi saat ini adalah hadiah terbesar untuk Ataturk". Jadi kata siapa Presiden Erdogan mengkhianatinya (dan tidak menghormati Mustafa Kemal Ataturk)?" ujar Savran Billahi di akun twitternya @savranbillahi pada Selasa 19 Oktober 2021 yang dikutip FIXJAKARTA.COM. 

Savran menyebutkan memang ada perbedaan pandangan politik antara Erdogan dengan Ataturk, namun Erdogan tidak pernah menghina Ataturk apalagi sampai menyebarkan hoax bahwa jenazah Ataturk bau bangkai seperti yang dilakukan sejumlah kelompok di Indonesia. Savran menegaskan bahwa Erdogan sangat menghormati Mustafa Kemal Ataturk. 

"Ini mirip perbedaan Soeharto dengan Soekarno atau Mao Zedong dan Deng Xiaoping di China. Yang menyebut bapak bangsa Turki bau bangkai itu berlebihan dan menurut saya menyakiti masyarakat Turki (yang sangat menghormati Mustafa Kemal Ataturk)," tutur Savran yang menjalani pendidikan masternya di Hacettepe Üniversitesi Ankara. 

Baca Juga: https://jakarta.fixindonesia.com/berita/kontroversi-kemal-ataturk-jadi-nama-jalan-apa-komentar-nu-2/6QNBLvFgqvjcxNB6SpYPXB

Menurut Savran, yang dilakukan Presiden Erdogan adalah skedar de-Ataturkisasi, bukan tidak menghormatinya.

"Mirip Soeharto yang melakukan de-Soekarnoisasi, misal seperti menanam banyak pohon di sekeliling Monas atau membangun jembatan menghimpit patung Pancoran. Tapi tetap menghargai sebagai bapak bangsa," tandasnya. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot