Ironi Menjadi Petani di Negeri Sendiri

Senja Bagus Ananda | Sukarno - Jumat, 24 September 2021, 10:31 WIB

Bimantara Adjie WardhanaBimantara Adjie Wardhana/Pribadi

Oleh Bimantara Adjie Wardhana 

FIXJAKARTA.COM - Belakangan pemberitaan marak terkait dengan kepala desa, yang juga petani, memproduksi dan mengedarkan benih dengan cara ilegal. Perilaku macam ini membuat saya teringat dengan banyaknya kisah prihatin yang dialami oleh petani kita, mulai dari kesulitan untuk menentukan harga panen karena harga dikuasai tengkulak hingga kesulitan dalam mengakses lahan karena maraknya land grabbing dengan berbagai cara. 

Ironis memang, sejak dahulu negara kita dikenal sebagai negara agraris yang memiliki komoditas-komoditas unggulan yang menjadi incaran banyak negara penjajah. Ditambah lagi dengan kenangan lagu band legendaris Koes Ploes yang menyebut bahwa Indonesia adalah negara kaya, sampai-sampai tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Mungkin itu hanya tinggal kenangan saja saat ini karena masih banyak petani gurem yang kondisinya memprihatinkan tersebar di seluruh pelosok negeri. 

Revolusi Hijau yang Merusak 

Kejadian yang menimpa Bapak Munirwan di Aceh mengingatkan kembali saya pada sejarah pangan dunia yang menelurkan konsep “Revolusi Hijau”. Adanya konsep “Revolusi Hijau” yang digaungkan oleh William S. Eaud pada tahun 1968 cukup membawa dampak yang signifikan di Indonesia. Oleh pemerintah Indonesia konsep Revolusi Hijau dibungkus dengan judul “Panca Usaha Tani”, yang dalam praktiknya banyak dikecam oleh banyak pihak. Panca Usaha Tani menitikberatkan pada usaha dalam ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian yang kaku, dengan segala kewajiban bagi setiap petani untuk menanam tanaman yang diinstruksikan oleh Pemerintah (Mubyarto, 1979). 

Editor: Senja Bagus Ananda

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot