Ikhwanul Muslimin Kalah di Maroko, Pengamat Timur Tengah Yon Mahmudi, Ph.D: Bisa Menjalar ke Turki

Alfanny - Kamis, 9 September 2021, 16:15 WIB

Yon MahmudiYon Mahmudi/Istimewa

FIXJAKARTA.COM.  Kekalahan Partai Keadilan dan Pembangunan (PJD) yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslim (IM) di Maroko dalam Pemilu pada Kamis 9 September 2021 dinilai pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Mahmudi, Ph,D disebabkan partai tersebut relatif cenderung tidak berdaya menghadapi raja ketika berkuasa di Maroko.

"Saat Marokko menjalin hubungan diplomasi dengan Israel, partai yang berkuasa ini cenderung tidak melakukan apa-apa. Artinya rakyat melihat tidak ada perubahan signifikan sejak partai politik pemenang pemilu bersama raja memegang kekuasaan," ujar Yon kepada reporter FIXJAKARTA.COM pada Kamis 9 September 2021. 

Sejumlah media di Timur Tengah melaporkan bahwa angka partisipasi pemilih atau turnout jauh lebih tinggi dibandingkan pemilihan tahun 2016 lalu. Kementerian Dalam Negeri mengatakan Partai Liberal memimpin pemilihan parlemen dengan 97 kursi.

Lebih lanjut Yon menambahkan bahwa kekalahan IM di Maroko mungkin mengejutkan jika dilihat dari peran partai ini dalam pemerintahan yang begitu dominan sejak revolusi.

"Namun nampaknya rakyat telah skeptik terhadap peran IM sebagai parpol yang cenderung tidak berdaya di bawah kekuasaan raja," tambahnya. 

Yon kemudian melanjutkan bahwa kekalahan IM di Maroko tersebut bisa saja menjalar ke negara Timur Tengah lainnya yang saat ini dikuasai IM seperti Turki

"Saya melihat kelompok Islamis dalam hal ini IM telah terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang cenderung pada pengamanan kekuasaan dibanding memberikan kepuasaan terhadap aspirasi publik. Kondisi ini bisa saja menjalar ke Turki jika AKP (dan Erdogan) mempertahankan kebijakan saat ini yang menunjukkan kecenderungan otoriter," lanjutnya.

Terkait dengan eksistensi IM di Mesir yang menjadi negeri tempat kelahiran IM, Yon mengungkapkan pesimismenya mengingat Mesir saat ini sudah membubarkan IM dan menyatakan IM sebagai organisasi terlarang.

"IM di Mesir cenderung tidak bisa leluasa beraktifitas di Mesir dan berpotensi kehilangan peran dan hubungan dengan grassroot karena (sudah dinyatakan) sebagai organisasi terlarang," pungkas Yon

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot