Historiografi Santri

Senja Bagus Ananda - Minggu, 29 Agustus 2021, 17:58 WIB

Dr. Amin MudzakkirDr. Amin Mudzakkir/Pribadi

Oleh Amin Mudzakkir

FIXJAKARTA.COM - Kemarin saya memoderatori sebuah webinar tentang Islam Nusantara, menghadirkan Prof. Bambang Purwanto. Nama ini, guru besar sejarah di UGM ini, tentu bukan orang asing bagi saya. Sewaktu menulis skripsi S-1, saya dibimbing olehnya. Saya membaca sebagian besar karya-karyanya.

Akan tetapi, pada acara kemarin, Prof. Bambang tetap menghentak, mengingatkan pada kuliah beliau "Historiografi Indonesia modern" yang saya ikuti tahun 2001. Saya tidak menyangka, benar-benar baru tahu, beliau mempunyai perhatian besar terhadap apa yang disebutnya "historiografi Islam (di) Indonesia". Tidak hanya memberi perhatian begitu saja, beliau juga menawarkan suatu "kerangka berpikir" yang digalinya dari prinsip-prinsip Islam yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Hal terakhir ini sungguh di luar dugaan saya. 

Secara apik Prof. Bambang menjelaskan beberapa prinsip dalam Islam, seperti kepercayaan terhadap qada dan qadar. Meski mengaku tidak mempunyai pengetahuan tentang Islam, juga merasa bukan NU atau Muhammadiyah, paparan beliau yang membawa prinsip qada dan qadar ke dalam perdebatan historiografis, bagi saya, sangat menantang--dan mencengangkan. Sewaktu saya kuliah di UGM 2000-2005, rasanya beliau belum mempunyai ketertarikan yang nyaris filosofis terhadap isu itu. 

Tentu saja Prof. Bambang tidak membahas qada dan qadar secara teologis, tetapi melihat itu sebagai tradisi yang berkembang sebagaimana dipraktikkan oleh orang-orang pesantren. Beliau menyitir kata-kata Mbah Maimoen Zubair, Gus Mus, hingga Gus Baha untuk memperlihatkan bahwa "tradisi pesantren" bukan hanya "sumber sejarah", melainkan lebih dari itu, "kerangka berpikir sejarah" itu sendiri. Yang diperlukan adalah perangkat metodologis agar semua itu bisa diterima oleh publik--dan, selanjutnya, dugaan saya, menjadi etika publik. 

Editor: Senja Bagus Ananda

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot