Hatta dan Pancasila

Alfanny - Rabu, 2 Juni 2021, 9:26 WIB

Bung HattaBung Hatta/Akun twiter Laode M Syarif

FIXJAKARTA.COM. Lho kok Hatta, bukannya hari lahir Pancasila itu identik dengan Soekarno?

Kita seringkali melupakan bahwa Soekarno dan Hatta itu adalah dwitunggal yang sesungguhnya, termasuk soal bagaimana peranan Hatta dalam menegakkan Pancasila yang kita kenal hari ini. 

Perdebatan tentang Pancasila, baik dari segi isi maupun hari kelahirannya sampai hari ini masih terus menjadi diskusi publik yang masih terus beresonansi. Sebagai sebuah diskursus dalam memperkaya dan memperluas spektrum kita dalam memahami sejarah berbangsa, saya kira hal ini cukup baik. Namun, ini menjadi kontraproduktif ketika diskusi publik ini berubah menjadi gugatan terhadap isi dari dasar negara yang telah disepakati bersama. 

Pancasila, bukanlah sebuah konsep bernegara yang lahir hanya satu malam dan bukan pula konsep bernegara yang lahir tanpa pergulatan ide dari tokoh-tokoh pendiri bangsa. Namun, dari sekian banyak ide dan rumusan dasar negara tersebut, memang poin-poin yang disampaikan relatif memiliki benang merah yang sama dengan butir-butir lima dasar negara yang kita kenal hari ini.

Bung Karno memang mengenalkan dasar negara Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, tetapi susunan Pancasila yang ada dalam pidato Bung Karno saat itu, berbeda dengan Pancasila yang kita kenal hari ini. Beberapa tokoh lainnya, seperti Soepomo dan M. Yamin juga sebelumnya sudah mengemukakan ide dasar bernegara Indonesia, yang jika kita telusuri lebih dalam, gagasan-gagasan besarnya juga relatif sama dengan yang disampaikan oleh Bung Karno.

Konsep dan ide-ide para tokoh ini kemudian digodok kembali bersama-sama oleh beberapa tokoh dalam Panitia Sembilan di BPUPKI dan menghasilkan sebuah rumusan bernegara pada tanggal 22 Juni 1945 yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. 

Piagam Jakarta ini pun sebetulnya belumlah final, konsep ini masih mendapatkan banyak pandangan terutama pada sila satu: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Pembahasan untuk kalimat sila pertama ini cukup alot pada rapat Panitia Perancang UUD pada 11 Juli 1945. 

Dengan memperhatikan beragam masukan dan realitas suku bangsa yang beragam di nusantara dan melalui pembahasan serta kompromi semua tokoh pendiri bangsa, akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945, Hatta mengungkapkan rumusan final pembukaan UUD Negara. Salah satunya menyebutkan perubahan kalimat pada dasar negara di sila pertama menjadi hanya "Negara berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa."

Editor: Senja Bagus Ananda | Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot