Gerbang Tani Tolak Rencana KKP Terapkan Penangkapan Ikan Terukur ke Investor Asing

Alfanny | Abdul Rohman - Kamis, 25 November 2021, 11:26 WIB

Gerbang Tani tolak rencana KKP terapkan penangkapan ikan terukur ke investor asingIdham Arsyad, Ketua Umum DPN Gerbang Tani tolak rencana KKP terapkan penangkapan ikan terukur ke investor asing

FIXJAKARTA.COM - Ketua Umum DPN Gerbang Tani, Idham Arsyad, menolak rencana KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) menerapkan penangkapan ikan terukur berbasis kuota untuk investor asing. Hal ini akan menyebabkan peminggiran secara sistematis potensi nelayan lokal dan tradisional.

“Kebijakan ini sangat tergesa-gesa dan belum ada kajian yang mendalam. Hal ini akan menimbulkan gesekan antara nelayan besar dan nelayan tradisional. Apalagi zona penangkapan ikan dibagi kuota komersial, non komersial dan tradisional. Kategori pembagian ini mudah diskenariokan, namun akan menimbulkan banyak masalah di lapangan, apalagi di Indonesia selama ini pengelolaan lautnya masih dengan cara unregulated dan unreported. Semestinya KKP mulai mempersiapkan tata kelola laut yang  baik dan regulated terlebih dahulu, dan itu membutuhkan kajian dan persiapan yang mendalam,” ujar Idham Arsyad dalam rilisnya pada Kamis 25 November 2021 yang dikutip FIXJAKARTA.COM.

Dalam pernyataannya, Menteri Kelautan dan Perikanan, menyampaikan bahwa dalam penerapan penangkapan ikan terukur nanti akan dibagi ke dalam 6 zona wilayah penangkapan dengan potensi yang sangat besar kurang lebih 12 juta ton.

Baca juga: Program Afirmasi Kesejahteraan Para Guru dari Kemenag Jadi Kado Hari Guru Nasional

 “Penentuan zonasi dan kebijakan yang semata-mata pertimbangan ekonomi, tanpa dibarengi program-program penguatan nelayan tradisional, sama aja dengan menjual laut kita ke pihak asing,” sambung Idham.

“Saat ini dalam rangka recovery pandemi Covid-19 semestinya kita kedepankan strategi penguatan nelayan-nelayan lokal, dimana selama pandemi mereka sangat terpukul karena ekspor ikan yang tidak berjalan efektif yang disebabkan karena adanya pembatasan sosial ataupun faktor lainnya. Jika dalam tahap pemulihan, nelayan-nelayan tradisional dihadapkan pada investor asing maka mereka pasti akan susah bangkit,” tandasnya.

“Apalagi 2 bulan lalu melalui perpres 85/2021 Kementerian Kelautan dan Perikanan menaikkan pendapatan negara non pajak yang sampai 400%. Ini menjadi pukulan telak yang dialami nelayan kita, saat sedang recovery dari pandemi,” lanjut Idham.

“Selain itu, penangkapan ikan secara besar-besaran akan menyebabkan program blue carbon akan terganggu. Sebab laut akan semakin ramai dan dikotori oleh kapal-kapal penangkap ikan dengan gross ton yang sangat besar. Jadi alih-alih kita memanfaatkan blue carbon, malah Indonesia akan tercatat sebagai negara dengan peningkatan emisi karbon dari sektor kelautan yang sangat tinggi. Hal ini juga bertentangan dengan arahan Bapak Presiden RI, Joko Widodo, yang menargetkan net zero emission di tahun 2050,” ujar mantan Sekjend KPA tersebut.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot