Gelombang PHK Sebabkan Jumlah Peserta BPJS Ketenagakerjaan Turun, DPR: Harus Ada Inovasi

Alfanny - Minggu, 19 September 2021, 6:33 WIB

Nihayatul WafirohNihayatul Wafiroh/dpr.go.id

FIXJAKARTA.COM.  Gelombang PHK pada masa pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan jumlah peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Ketenagakerjaan. 

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan jumlah kepesertaan BPJS TK mengalami penurunan.

"Desember 2018, TK aktif sebanyak 30,46 juta, 2019 sebanyak 34,17 juta dan menurun tahun 2020 menjadi 29,98 juga turun lagi tahun 2021 ke 27,79 juta," ungkap Eko sebagaimana dilansir website DPR pada Jumat 17 September 2021 yang dikutip FIXJAKARTA.COM. 

“Kami tidak pernah menduga Covid-19 yang wave kedua ini sehingga membuat prognosa kami bergeser dari angka semula target 33 juta ke 30 juta. Ini kami berupaya terbaik untuk mencapainya,” lanjutnya. 

Anggoro menjelaskan, ada pertumbuhan peserta baru sebanyak 11,4 juta tahun ini, namun, jumlah peserta yang keluar pun tidak kalah banyak.

“Memang jumlah keluar sebagai kepesertaan cukup tinggi akibat peningkatan pengangguran dan juga berhenti bekerja. Sehingga jika dilihat dari Desember 29,98 juta, di Agustus 29,2 juta. Masih turun padahal angkanya peserta barunya tetap nambah. Jadi turunnya lebih banyak,” katanya.

Merespon paparan Dirut BPJS Ketenagakerjaan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh tetap meminta BPJS Ketenagakerjaan untuk meningkatkan perluasan  kepesertaan dan pelayanan kepada peserta dengan menciptakan sejumlah inovasi

"(Hal tersebut) sebagai implementasi Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2021 tentang Optimalisasi Jaminan Sosial BPJS Ketenagakerjaan," tandas Nihayatul.  

Nihayatul Wafiroh juga mendesak BPJS Ketenagakerjaan untuk mencari inovasi dalam meningkatkan kinerja investasi pada instrumen investasi yang aman dan memberikan nilai imbal hasil yang lebih tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

“Sehingga hasil investasi memberikan keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan penyelenggara jaminan sosial,” kata Ninik.

Menanggapi permintaan DPR tersebut, BPJS Ketenagakerjaan menargetkan hasil investasi mencapai Rp33,24 triliun tersebut lebih rendah dari target yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp37,40 triliun. Ia memaparkan, sampai dengan Agustus 2021, realisasi penerima investasi mencapai Rp 22,35 triliun atau membaik dari Juni 2021 sebesar Rp 16,77 triliun.

“Prognosa sampai akhir tahun dengan kondisi market saat ini dengan tingkat suku bunga (rendah), target hasil investasi akhir tahun sebesar Rp33,24 triliun akan lebih tinggi dari hasil investasi tahun 2020,” katanya.

Selain itu, BPJS telah melakukan sejumlah langkah dalam menindaklanjuti rekomendasi BPK untuk melakukan cut loss atau take profit di sejumlah saham. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot