FIB UI Menuju Kampus Merdeka Belajar: Penguatan Pengakuan Nasional dan Internasional

Alfanny - Sabtu, 13 November 2021, 15:08 WIB

FIB UI Menuju Kampus Merdeka Belajar:  Penguatan Pengakuan Nasional dan InternasionalFIB UI Menuju Kampus Merdeka Belajar: Penguatan Pengakuan Nasional dan Internasional/Istimewa

FIXJAKARTA.COM.

Oleh

Yon Machmudi, Ph.D

Sebagai bagian dari civitas UI, saya memiliki keinginan kuat untuk berkontribusi memperkuat pengembangan FIB ke depan guna menjadikan FIB sebagai salah satu fakultas di lingkup Universitas Indonesa yang siap menopang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan memperkuat pengakuan nasional dan internasional.

Dengan mensinergikan semua keunggulan FIB reputasi FIB di level nasional dan internasional akan semakin diakui. Semua tatakelola dan managemen di kampus terutama berkaitan dengan aspek pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat diarahkan secara sinergis untuk mencapai visi ini. Visi dan misi serta berbagai pemikiran strategis dalam pengembangan FIB ke depan, saya jabarkan dalam tulisan singkat ini.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia merupakan fakultas yang memiliki keunikan dan sekaligus menjadi keunggulan bagi pengembangan Tridarma perguruan tinggi menuju penguatan pengakuan nasional dan internasional. FIB memiliki beberapa prodi yang memiliki ciri khas lokal, national, internasional dan juga keilmuan. Ciri khas ini menjadi kekuatan besar bagi FIB untuk berkembang untuk menguatkan reputasi akademik secara nasional dan internasional.

Ciri khas ini dapat menciptakan semangat inovatif yang besar dan berdaya saing tinggi dengan memperkuat sinergis internal dan eksternal guna memperkuat pengakuan peran nasional dan internasional (national dan internasional recognition). Reputasi FIB di level nasional dan internasional perlu semakin diperkuat melalui sebuah kebijakan pengelolaan managemen fakultas yang komprehensif dalam menjalankan tridarma yang dapat menghasilkan ouput yang diakui kontribusinya secara keilmuan, berdampak tinggi bagi masyarakat baik di level nasional maupun internasional.

Tentu pengembangan dan penguatan peran FIB di sini akan selaras dengan tahapan dan tonggak capaian utama Universitas Indonesia (milestone) pada 2021-2025 yaitu Universitas Indonesia mantap melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi sebagai advokator dalam menyelesaikan masalah dan tantangan di tingkat nasional maupun global, dan menjadi 5 besar di Asia Tenggara.

Peran yang harus dijalankan oleh FIB menjadi jelas dan selaras dengan tonggak yang harus dicapai dalam Rencana Pengembangan Jangka Panjang Universitas Indonesia (RPJP UI). Dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) peran sebagai advokator yang berkontribusi dalam penyelesaian masalah dan tantangan nasional maupun global semakin selaras jalannya. FIB pun dapat menopang rencana strategis UI dengan melahirkan sebuah peta jalan dalam bentuk sasaran strategis dan program kerja yang dapat dicapai dengan baik.

Dari sisi prodi, ada tiga karakteristik keunggulan yang dapat diperkuat peran dan kontribusinya dalam aspek tridarma perguruan tinggi. Pertama, Prodi yang memiliki orientasi studi internasional baik dari sisi bahasa, budaya maupun kewilayahan. Prodi-prodi itu antara lain Arab, Belanda, China, Inggris, Jepang, Jerman, Korea, Perancis, dan Rusia). Prodi-prodi ini dapat memperkuat perannya dalam mengemban misi Negara Indonesia berkaitan dengan menyambungkan kepentingan nasional negara melalui diplomasi budaya dengan negara-negara yang bersangkutan. Peran ekspansi Prodi internasional dengan membawa misi negara dalam hal pengembangan dan pengenalan kebudayaan nasional ke mancanegara akan membuka peluang besar dalam berbagai dimensi baik pendidikan maupun ekonomi. 

Kedua, Prodi yang memiliki orientasi studi lokal dan nasional dapat diarahkan untuk dapat memperkuat studi kearifan lokal (indigenous study) dan keindonesiaan. Prodi-Prodi ini antara lain Prodi Jawa dan Indonesia. Arah pengembangan prodi ini semakin diperkuat dengan mengarah pada upaya menggali keunggulan lokal dan nasional yang dapat menyelesaikan isu-isu nasional dan sekaligus menarik pihak internasional untuk belajar dan berkolaborasi dengan FIB.

Ditambah lagi dengan kebedaraan Kajian Asia Tenggara yang mewadai berbagai studi berbagai dinamika budaya di Asia Tenggara juga dapat menambah peran FIB semakin kuat di level Asia Tenggara dan dunia internasional.    Keunggulan ini akan dimanfaatkan untuk menjadikan FIB sebagai pusat kajian unggulan berkaitan dengan studi berdimensi lokal, nasional dan regional. Kiblat studi ini perlu mendapatkan perhatian khusus guna memperkuat reputasi akademik FIB UI. 

Ketiga, Prodi yang beroreintasi pada penguatan keilmuan spesifik seperti Filsafat, Sejarah, Arkeologi dan Ilmu Perpustakaan. Penguatan keilmuan di ranah ini juga sangat penting dengan berbagai riset dan pengajaran inovatif dapat semakin memperkuat citra (image, brand) FIB di level nasional dan internasional. Ilmu Perpustakaan yang beroreintasi pada pengembangan dokumentasi dan pengelolaan informasi menjadi kekuatan luar biasa bagi FIB dalam penguatan pengakuan nasional dan internasional ini.

Dari sisi departemen, FIB memiliki beberapa departemen yang membawahi beberapa prodi pascasarjana antara lain departemen Arkeologi, Filsafat, Kesusastraan, Linguistik, Sejarah dan Kewilayahan. Departemen yang menjadi core (inti) keilmuan di FIB ini punya peran penting dalam hal memperkuat riset dan publikasi yang berdaya impact tinggi. Semua itu harus disenergikan dalam tatakelola dan managemen yang baik dengan memantapkan peran teknologi informasi dapat menunjang kegiatan akademik dan nonakademik. Tata kelola FIB yang memudahkan hubungan internal dan eksternal berkaitan dengan hubungan dengan lembaga-lembaga pemerintah atau swasta, industry maupun lembaga pendidikan di luar negeri. 

Baca Juga: https://jakarta.fixindonesia.com/berita/inginkan-kampus-yang-toleran-sejumlah-alumni-fib-ui-dukung-yon-mahmudi-sebagai-dekan-fib-ui-2/Jr7EpkSFGSAcEJjByHQQNF

Bagaimana era Merdeka Belajar ini dapat memfasilitasi sebuah upaya penguatan FIB ke depan ini? MBKM menyediakan ruang besar bagi perguruan tinggi, terutama FIB, untuk mewujudkan proses pembelajaran yang lebih mandiri (otonom) dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Mahasiswa disiapkan menuju profil pembelajar sejati dengan yang terampil, lentur, toleran dan ulet (agile learner).

Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka dapat bersinergi dengan rencana strategis UI dan program kerja FIB dalam hal menyiapkan suasana akademik, managemen, dan sara prasana yang mendorong terciptanya hasil optimal yaitu mahasiswa yang akan menjadi “sarjana yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan semangat kebangsaan yang tinggi” (Dirjen Dikti, 2020, I).

Hak belajar 1 semester luar prodi dan 2 semester di luar perguruan tinggi, misalnya, perlu dikelola dengan baik dengan memperhatikan pada tonggak capaian UI dan program penguatan FIB dari aspek kemandirian, inovatif dan berwawasan kewirausahawan guna menopang pengokohan pengakuan nasional dan internasional. Apabila ini yang dilakukan secara terencana makan akan mempercepat realisasi UI menjadi 5 besar di Asia Tenggara.

Posisi FIB UI sendiri dari dilihat dari pemeringkatan dunia berdasarkan QS World University Rankings by Subject 2021 bidang Arts and Humanities menempati posisi 287 sementara UI sendiri di level 305 (QS WUR 2021). Pada satu sisi yang lain, reputasi nasional juga harus diperkuat dan tidak dapat dikesampingkan. UI saat ini menempati urutan ke 4 versi Kemendikbud 2021. FIB yang diarahkan pada penguatan pengakuan nasional dan internasional akan selaras dengan tonggak UI menjadi 5 (lima) besar di level regional (Asia Tenggara).

Sebagai fakultas yang ada di UI dengan berbagai keunikan dan keunggulan di atas, pertanyaannya adalah bagaimana FIB dapat menopang tonggak capaian UI dan merealisasikan dalam bentuk sasaran strategis dan program kerja yang terukur? Bagaimana inovasi akademik dapat diperankan oleh FIB dalam bentuk program pendidikan, riset maupun pengabdian masyarakat yang inovatif dan dapat menciptakan peluang academic entrepreneurship dan membawa penghargaan ekonomi bagi individu maupun institusi?(Ortiz, 2017, 1-18). Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana program Merdeka Belajar yang sebenarnya sudah dilakukan di FIB semakin diperkuat guna menunjang penguatan pengakuan FIB di level nasional dan internasional sekaligus menumbuhkembangkan lingkungan dan program kewirausahawan di FIB? Semua ini adalah tantangan yang harus dijawab para pejabat struktural FIB ke depan. 

 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot