Eks KPK Kerja Serabutan, Dosen Psikologi Universitas Pancasila Ade Iva Wicaksono: Itu Playing Victim

Alfanny - Rabu, 13 Oktober 2021, 8:21 WIB

Ade Iva WicaksonoAde Iva Wicaksono/Istimewa

FIXJAKARTA.COM.  Beberapa hari terakhir, media diramaikan pemberitaan tentang eks pegawai KPK yang bekerja serabutan mulai dari berjualan nasi goreng hingga jadi kuli bangunan. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Ade Iva Wicaksono menilai perilaku eks pegawai KPK tersebut sebagai playing victim.

"Selamat pagi! Baru 4 Oktober (lalu) saya bikin utas soal playing victim ini, muncul contohnya langsung, berita-berita "setelah dipecat kemudian jadi tukang nasgor dll".  Bukan tidak empati, tapi ada banyak orang di-PHK sejak pandemi, mereka juga tidak berpendidikan tinggi dan tidak menghiba-hiba. Respect yourself guys," ujar Ade di akun twitternya @ivarivai1992 pada Selasa 12 Oktober 2021 yang dikutip FIXJAKARTA.COM.

Menurut Ade, setiap manusia pasti pernah mengalami kejadian buruk dan kegagalan dalam hidup.

"Kita tidak selalu sukses, ada masa-masa dimana kita harus mereguk kekalahan. Tapi ada orang yang melihat bahwa hal buruk terhadap dirinya adalah akibat niatan dan perbuatan buruk orang lain," lanjutnya. 

Playing victim menurut Ade adalah cara berpikir, yang memakan energi diri sendiri, yang selalu melihat dirinya sebagai “korban tiada akhir”.

"Bahkan para ahli mengingatkan adanya culture of victimhood, yakni cara-cara untuk meperlihatkan derita korban, sehingga menaikkan harga diri korban dan menjatuhkan moral pelaku bully atau kekerasan," tutur Ade. 

Sayangnya, Ade menyebutkan bahwa playing victim tidak selalu karena adanya bullying atau kekerasan (korban bully dan kekerasan JUSTRU HARUS DITOLONG). 

"Playing victim bisa terjadi karena adanya kebutuhan untuk diakui (need for recognition), individu memiliki kebutuhan yang tinggi untuk mendapat perhatian khalayak dan dikenali sebagai korban (karena kejadian apapun)," sambung Ade yang pernah menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

Selain itu menurut Ade, playing victim bisa terjadi karena elitisme moral, merasa diri sangat suci di banding sekelilingnya atau siapapun yang tidak sesuai dengan pikirannya, orang-orang itu adalah orang yang kotor dan ia merupakan korban dari orang-orang kotor tersebut. 

"Playing victim bisa (juga) terjadi karena kurang empati, merasa dirinya adalah korban dan tidak peka, bahwa sesungguhnya banyak orang juga menderita dan merasa sakit," tambahnya. 

Lebih lanjut Ade kemudian menjelaskan bahwa playing victim juga bisa terjadi karena tidak bisa melepaskan diri pikiran dari cara-cara yang lama atau perilaku yang telah terpola, sehingga segala sesuatu yang berbeda dari yang lama dianggap menyerang dirinya.

Namun menurut Ade, playing victim bukan sesuatu yang bisa dianggap lucu,

"Karena ini adalah cara berpikir yang berorientasi hanya pada sesuatu yang negatif. Akibatnya mereka yang selalu playing victim, akan selalu mengeluh, mengingat masa lalu yang menyakitkan, kemudian balas dendam," ungkap Ade. 

Ironisnya menurut Ade, mereka merasa sah-sah saja melakukan tindakan melawan norma atau hukum.

"Coba lihat bagaimana kelompok separatis melakukan kekerasan terhadap masyarakat tanpa merasa bersalah, bahkan merasa dirinya berhak mendapat glorifikasi," jelas Ade. 

"Siapapun ingin dunia ini adil, tetapi ketika seluruh jiwa kita arahkan untuk berperan sebagai KORBAN maka kita kehilangan kemampuan memahami orang lain, tidak mampu berpikir adil terhadap suatu kejadian dan kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik," tambahnya. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot