Edward Said, Mengenang Sang Intelektual Intifada Palestina

Alfanny - Senin, 17 Mei 2021, 16:51 WIB

Edward SaidEdward Said/jacobin.com.br

FIXJAKARTA.COM.  Orang dalam foto diatas, bukanlah sembarangan kakek. Beliau adalah Profesor Edward Said yang terkenal daya juangnya menyuarakan hak-hak dan kemerdekaan bangsa Palestina di Amerika. Sebagai intelektual yang seringkali sendirian (lone wolf) memperjuangkan nilai-nilai yang kontradiktif dengan garis politik Amerika yang dipenuhi kepentingan dan lobi Yahudi, beliau tak pernah kenal lelah.

Seringkali pribadinya dirayu ataupun diserang secara ganas oleh antek-antek Yahudi, seperti contohnya dilecehkan oleh penelepon anonim, kantornya dikunjungi oleh preman yang membawa molotov, dan berkali-kali difitnah oleh orang-orang Yahudi Amerika yang benci bahwa dirinya. Di hari-hari terakhir sebelum ia berhenti sebagai pengajar, suatu upaya dilakukan oleh orang-orang pendukung Israel untuk mendepaknya dari pekerjaan akademisnya sebagai profesor sastra di Universitas Columbia dengan fitnah anti semit. Profesor Edward Said tidak pernah takut, tetapi justru hal itu malah semakin memompa semangat juangnya.

Kembalinya sang profesor ke tanah kelahirannya pada awal 1990-an, banyak menginspirasi rakyat Palestina yang berdiaspora untuk pulang ke negerinya itu.   Said, yang lahir di Yerusalem, terkenal dengan bukunya "Orientalism" yang terbit pada 1978 memiliki banyak definisi. Salah satunya adalah 'gaya berpikir yang didasarkan pada perbedaan antara Timur dan Barat.' Gaya itu sering kali direduksi dan disederhanakan dengan eksotis. Buku-buku lainnya seperti “The Question of Palestine,” “After the Last Sky,” “The Politics of Dispossession,” dan memoar di masa mudanya, “Out of Place,” telah membuka mata banyak orang bahwa kemanusiaan Palestina terhimpit oleh politik.

Ia konsisten membawa pesan perdamaian hingga akhir hayatnya. Dirinya senantiasa menolak politik status quo, etno-nasionalisme, sekaligus fanatisme agama yang umumnya berlaku diantara bangsa arab. Dia memberi pencerahan bahwa setia pada suatu tujuan tidak membutuhkan kesetiaan buta kepada para pemimpin atau simbol, tetapi lebih membutuhkan kritik diri dan dialog.

Pada tanggal 25 September 2003, beliau wafat di usia 67 tahun akibat leukimia. Banyak yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Bukan hanya duka warga Palestina, tetapi juga akademisi-akademisi dunia saat itu yang berdiri diatas nilai-nilai kemanusiaan. (ano/Diolah dari berbagai sumber)

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot