Diskusi GP Ansor Jakbar: "Islam Ibarat Tebu, Pancasila Gulanya"

Alfanny - Senin, 14 Juni 2021, 7:45 WIB

Ilustrasi Hormat Bendera IndonesiaIlustrasi Hormat Bendera Indonesia/unsplash.com

FIXJAKARTA.COM.   Walaupun masih ada segelintir kelompok radikal yang belum mau mengakui Pancasila, namun bagi warga NU, Pancasila sudah final. Mengutip pernyataan Gus Dur dalam konteks agama (Islam) bahwa Pancasila sesungguhnya sudah Islami, ibaratnya "Islam itu sebagai Tebu dan Pancasila itu sebagai Gula".  Demikian ilustrasi aktivis Gusdurian  Sari Wijaya dalam diskusi yang diselenggarakan PC GP Ansor Jakarta Barat. Minggu 13 Juni 2021 di Majelis Taklim Dhiyaul Falah, Grogol Petamburan, Jakarta Barat yang juga disiarkan secara virtual. 

Sari menyoroti tentang pentingnya menjadikan Pancasila sebagai rumah besar kita Indonesia dan merawatnya  dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan kita sehari - hari.

"Perbedaan pandangan sebenarnya tidak masalah, yang jadi masalah adalah membeda-bedakan, bahwa Pancasila lahir karena adanya perbedaan suku, agama, etnis, golongan dan lain - lain dan Pancasila itulah yang menyatukan perbedaan tersebut menjadi satu kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tandas Sari dalam rilis yang diterima FIXJAKARTA.COM. 

Sementara itu narasumber lainnya Niko Fajar Setiawan dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi DKI Jakarta  dari dalam paparannya menyampaikan bahwa ada 4 orang warga keturunan Tionghoa di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), sebuah badan yang dibentuk untuk merumuskan UUD dan dasar negara Indonesia. 

"4 orang dari 62 anggota BPUPKI berasal dari etnis Tionghoa diantaranya adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oey Tjong Hau dan Tan Eng Hoa. Itu artinya bahwa seluruh elemen masyarakat yang ada di Indonesia dari berbagai etnis memiliki kontribusi terhadap bangsa dan kesemuanya itu di satu padukan di dalam Pancasila yang menjadi kesepakatan bersama menjadi dasar negara," ujar Niko di depan puluhan anggota Ansor-Banser, IPNU-IPPNU dan lain-lain. 

Oleh karena itu menurut Niko, segala macam bentuk perbedaa-perbedaan semacam itu sudah tidak relevan lagi untuk di bicarakan. Yang terpenting adalah mari kita sama-sama mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam butir - butir Pancasila dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab", tutup Niko. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot