Dihukum Tindih Tembok, Kelompok LGBT Afghanistan Ketakutan

Sukarno | Abdul Rohman - Selasa, 12 Oktober 2021, 18:52 WIB

null/Facebook Fanpage: LGBT in Afghanistan

FIXJAKARTA.COM - Sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus lalu, warga minoritas Afghanistan penyandang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) semakin takut keamanan mereka terancam. Pasalnya, Taliban menganggap kaum LGBT  menyimpang dari nilai agama dan rezim Taliban kerap menjatuhkan hukuman yang tak manusiawi kepada para pelanggarnya.

LGBT sendiri memang telah lama ilegal dalam Hukum Pidana Afghanistan 2017. Hukuman mati dapat dikenakan terhadap para pelanggar sesuai hukum tersebut.

Akan tetapi, menurut kelompok advokat kaum LGBT, ILGA-World, Afghanistan tidak pernah menggunakan hukuman mati terhadap penyandang LGBT itu sejak 2001.

Namun, di bawah rezim Taliban, kaum LGBT khawatir hukuman mati akan kembali diterapkan seperti masa kekuasaan Taliban pada 1996-2001 lalu. Saat itu, Taliban dilaporkan kerap mengeksekusi kaum gay dengan cara digantung, ditembak mati, atau dipukul batu sampai meninggal dunia. Kaum 'pelangi' juga kerap dihukum dengan ditindih dengan dua tembok yang didorong oleh tank hingga tewas.

Saat ini tersebar desas-desus bahwa Taliban menipu para penyandang LGBT untuk bertemu dengan mereka melalui media sosial. Taliban menjanjikan keselamatan bagi kaum LGBT yang ingin melarikan diri dari negeri itu. Desas-desus ini menyebabkan kekhawatiran di seluruh komunitas gay di negara itu. Mereka takut akan ditangkap untuk kemudian dianiaya atau dibunuh.

"Mereka (Taliban) bisa saja memenggal kepala kami atau membunuh kami dengan cara yang paling brutal. Mereka ahli dalam hal itu," kata Ahmed, salah satu pria Gay yang diwawancarai media internasional yang dikutip FIXJAKARTA.COM.

Ahmed mengungkapkan perlakuan Taliban terhadap minoritas LGBT di Afghanistan. Ia mengutip dari pernyataan seorang hakim Taliban yang mengatakan hanya ada dua hukuman untuk homoseksualitas yakni rajam atau dihancurkan di bawah tembok yang dirobohkan.

Ahmed mengaku dia pernah dihentikan Taliban hanya karena mengenakan topi bisbol. Mereka menarik topi itu dari kepalanya dan bertanya "Mengapa mengenakan topi hip hop?" Beruntung, identitas LGBT-nya tidak diketahui sehingga nyawanya selamat di saat itu.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot