Di Balik Peran Bapak, Ada Peran Ibu sebagai Tulang Punggung Kehidupan

Senja Bagus Ananda - Sabtu, 13 November 2021, 7:00 WIB

Ilustrasi di balik peran bapak, ada peran ibu sebagai tulang punggung kehidupanIlustrasi di balik peran bapak, ada peran ibu sebagai tulang punggung kehidupan/Pixabay

Oleh Anuri Furqon

FIXJAKARTA.COM - Ibu dan bapak memiliki peran penting dalam masyarakat sehingga keduanya dirayakan peringatannya, Hari Ibu dan Hari Ayah. Hari Ayah diperingati pada tanggal 12 November, sedangkan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Penghormatan pada sosok orang tua begitu besar. Kepada bapak sehingga muncul Bapakisme pada pemerintahan orde baru dengan penisbatannya kepada Presiden Soeharto yang kontroversial lewat pemerolehan kekuasaannya yang dianggap kudeta merangkak oleh beberapa kalangan.

Akan tetapi, di masa pemerintahannyalah konon stabilitas politik tercapai dan pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan. Muncullah sekolah inpres dan pasar inpres untuk menunjukkan betapa presiden sebagai pemimpin memberikan pengaruhnya pada seluruh sektor pembangunan. Di balik itu muncul pula peran sang istri lewat julukan Nyonya Ten Persen. Seakan siapa pun yang ingin mengenyam kue pembangunan, maka harus siap memberikan suapan kepada nyonya besar. 

Peran perempuan yang cukup besar dari kepemimpinan nasional ini seakan ingin dijelaskan oleh sebuah disertasi yang ditulis oleh Risa Permana Deli tentang perempuan Jawa. Pemaparannya tentang perempuan Jawa ini begitu luas. Mulai dari peran perempuan dalam rumah tangga, yang paling menarik adalah peran perempuan dalam perayaan ritus-ritus peralihan yang cukup krusial dalam kehidupan setiap masyarakat Jawa, seperti perkawinan, kelahiran, sunat, dan selamatan ulang tahun kematian (haul). Di sana disebutkan bagaimana perempuan mengawal proses di dalam penerimaan tamu atau dalam penyiapan suguhan untuk tamu. Perempuan juga di sana digambarkan sebagai sosok yang serbabisa. Bisa memberikan keturunan, merawatnya, bahkan merawat suami itu sendiri, menerima laki-laki dengan segala kekurangannya. 

Seakan-akan perempuan bisa menopang satu keluarga tanpa perlu kehadiran seorang laki-laki. Perempuan hanya perlu menjaga nilai yang harus dianut sehingga dalam sebuah ungkapan perempuan alias wanito disebutkan wani ditoto ataupun wani noto. Dalam buku ini ditampilkan perempuan merupakan makhluk yang tidak merepotkan dan justru menjaga tatanan. Jadi, perempuan adalah dua-duanya: wani ditoto dan wani noto karena perempuan itu adalah tatanan itu. 

Penggambaran posisi perempuan ini tampak seakan-akan penulis lebih kepada masyarakat Jawa, latar belakang asal dari penulis. Akan tetapi, jika menelisik lagi di karya penulis, terdapat juga pada masyarakat non-Jawa. Seperti masyarakat Bugis yang pernah saya tergabung di dalamnya.

Posisi perempuan sangatlah krusial dalam masyarakat Bugis dalam mengurusi dan memastikan berlangsungnya setiap proses ritus peralihan pernikahan. Bahkan Risa melihat perempuan memiliki peran sentral dalam kehidupan keseharian masyarakat Bugis, terutama dalam merawat dan membesarkan anak-anak. Disebutkan juga perempuan sebagai poros kehidupan masyarakat Bugis.

Editor: Senja Bagus Ananda

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot