Bulan Suro Bulan Buruk Untuk Menikah? Ini Penjelasannya

Sukarno | Abdul Rohman - Senin, 9 Agustus 2021, 18:58 WIB

null/pixabay.com

FIXJAKARTA.COM - Di kalangan masyarakat, khususnya orang Jawa, terdapat mitos yang beredar terkait larangan menikah di bulan Suro atau Muharram. Mitos ini, jika dilanggar, maka akan membawa sial.

Masyarakat Jawa memiliki anggapan bahwa bulan Suro atau Muharram merupakan bulan yang paling agung dan mulia. Saking mulianya, maka dipercayai bahwa hamba atau manusia tidak kuat atau dipandang terlalu lemah untuk menyelenggarakan kegiatan.

Hanya kalangan keraton yang boleh melangsungkan hajat di bulan Suro.

Di luar pengaruh kuktur penanggalan Jawa, salah satu poin lain yang melatari kepercayaan ini adalah sejarah terjadinya peristiwa-peristiwa besar, seperti pembantaian terhadap 72 anak keturunan Nabi dan pengikutnya.

Sehingga hal ini menumbuhkan rasa haru dan sungkan untuk menyelenggarakan pernikahan atau sebuah hajatan di bulan Muharram.

Pun demikian, kepercayaan atas bulan baik dan bulan buruk untuk pernikahan tidak hanya dalam masyarakat Jawa saja.

Contoh saja, ada anjuran untuk tidak menikah di bulan Syawal di masyarakat Minangkabau. Malah Di beberapa tempat diyakini, menikah antara dua khutbah (Idul Fitri dan Idul Adha) diyakini akan menuai sial. Akhirnya, banyak yang khawatir untuk melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal karena kepercayaan turun-temurun ini.

Sejatinya, keyakinan itu sejalan dengan budaya orang-orang Arab pra Islam. Pada bulan Syawal, unta betina menolak didekati unta jantan dengan cara mengangkat ekornya. Perilaku unta betina yang menolak dengan mengangkat ekor disebut syalat bi dzanabiha. Dari sinilah syalat ini menurut Lisanul Arab Ibnu Mundzir menjadi muasal kata Syawal.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot