Bukan Zoolosis Melainkan Gejolak Nafsu sebagai Ancaman

Aris Moza - Sabtu, 3 Juli 2021, 18:37 WIB

Muhammad IshomMuhammad Ishom

M. Ishom el-Saha
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Pengasuh Pondok Pesantren Arrohimiyyah

FIXJAKARTA.COM - Zoolosis atau penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya banyak disebut sebagai ancaman nyata dalam kehidupan manusia ke depannya. Dunia belum belum mampu meredam pandemi covid19, kini sudah muncul kembali virus babi. Wajar saja kalau dikatakan ancaman berat manusia adalah zoolosis. Konon, 65% penyakit manusia disebabkan zoolosis.

Padahal sejak dari awal Allah Swt sudah menjinakkan hewan-hewan untuk kelangsungan kehidupan manusia. Tak bisa kita bayangkan jika hewan-hewan belum dijinakkan, di satu sisi, dan di sisi lain hewan juga menjangkiti penyakit dalam kehidupan manusia. Ini berarti dengan kerendahan kita patut mengakui bahwa manusia sendiri-lah yang menjadi penyebab ketidaknormalan tatanan hidup di dunia.

Kita lupa bahwa ada unsur terdekat antara manusia dengan hewan, yakni hasrat. Kita punya hasrat dan begitu pula hewan. Hasrat sendiri merupakan anugerah Tuhan, agar makhluk ciptaan-Nya mau bergerak. Namun tatkala hewan selalu bergerak, manusia justru timbul gejolak. Sebetulnya kalau sama-sama bergerak semua akan berjalan dinamis. Namun karena yang satu bergerak dan yang lainnya bergejolak timbulnya adalah ketidakwajaran.

Bergerak maksudnya ialah pindah bukan sebatas dalam ukuran tempat tetapi juga waktu. Sedangkan bergejolak pengertiannya ialah bergerak tapi di situ-situ saja dan tak kenal waktu. Hasrat mempengaruhi gerak karena di tiap-tiap tempat dan waktu terdapat jangka yang harmonis. Sementara hasrat bergejolak yang tak kenal tempat dan waktu timbulnya hanya membuahkan ketamakan dan kerakusan. 

Hewan mulai bergerak di pagi hari mencari pakan, sore harinya kenyang langsung pulang ke kandang dan sangkar. Sementara manusia di situ-situ saja atau ngubeg ke mana-mana, tapi sekalipun sudah kenyang masih juga pingin ini dan itu. Hasrat manusia yang terus-menerus bergejolak tak disadari menggerus imun tubuh mereka sendiri. Dari sudut ini saja, sesungguhnya manusia rentan terkena penyakit.

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot