Borobudur Writers And Cultural Festival (BWCF) Ke-10, Yuk Simak Agenda Acaranya

Alfanny - Selasa, 2 November 2021, 13:27 WIB

Borobudur Writers And Cultural Festival (BWCF) Ke-10, Yuk Simak Agenda AcaranyaBorobudur Writers And Cultural Festival (BWCF) Ke-10, Yuk Simak Agenda Acaranya/Istimewa

FIXJAKARTA.COM.   Borobudur Writers And Cultural Festival (BWCF) memasuki usianya yang ke sepuluh di bulan November 2021 ini. BWCF adalah sebuah festival literasi dan festival seni pertunjukan yang dimulai dari tahun 2012. Perayaan 10 tahun BWCF ini karena masih dalam masa pandemi  akan sepenuhnya berlangsung online. Acara secara daring akan digelar dari tanggal 18-21 November 2021. 

Pada setiap penyelenggaraannya BWCF selalu mengusung tema-tema khusus untuk dibahas lintas disipliner oleh para ahli mulai dari arkeolog, filolog, sejarawan, sastrawan sampai pengamat seni pertunjukan. Menyambut 10 tahun BWCF di tahun 2021 ini, panitia BWCF menyajikan tema: Membaca Ulang Claire Holt: Estetika Nusantara, Kontinuitas, dan Perubahannya.

Di tahun ini kami ingin membicarakan estetika Nusantara sejak gambar-gambar gua cadas di zaman pra sejarah, sampai seni rupa modern dan seni pertunjukan kontemporer Indonesia. Buku Claire Holt : Art in Indonesia: Continuity and Change yang terbit tahun 1967 menjadi dasar pijakan kami merumuskan tema-tema diskusi.

Buku Claire Holt itu bisa disebut salah satu buku yang berusaha memahami sejarah estetika di Nusantara. Buku ini secara menarik berbicara tentang kontinuitas estetika nusantara dari akar-akarnya di zaman prasejarah

Sebelum menulis buku ini, Claire Holt telah menulis buku sebuah tentang tari di Indonesia antara lain: Dance Quest in Celebes (1939) dan manuskrip lain seputar tari. Buku Art in Indonesia: Continuities and Change sendiri pada tahun 2000 telah dialihbahasakan oleh Prof. Dr. RM. Soedarsono dan diterbitkan oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia dengan judul: Melacak Jejak-Jejak Perkembangan Seni di Indonesia.

Claire Holt adalah perempuan jurnalis keturunan Latvia yang menjadi warga negara Amerika.  Claire Holt lahir dengan nama asli Claire Bagg pada 1901 di Riga, Latvia.  Ia adalah anak kedua dari lima bersaudara. Setelah menikah ia pindah ke New York. Di kota "Big Apple" itu, Claire mengikuti perkuliahan di Brooklyn Law School, Cooper Union New York, dan kursus mematung di studio Alexander Archipenko—pematung kontemporer Amerika kelahiran Ukrania. Pada Mei 1929, suami Claire Holt tewas karena kecelakaan. Claire lalu bersama anaknya kembali ke Riga, Latvia.

Angelica Archipenko, seniman dan juga istri Alexander Archipenko, suatu kali menjenguk Claire Holt di Latvia. Ia kemudian mengajak Claire berkeliling dunia. Kebetulan Angelica mengenal pelukis Walter Spies yang bermukim di Bali. Pada 1930 akhirnya, mereka menuju Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda) dan mendarat di Bali. Claire segera menjadi bagian dari lingkaran pergaulan Walter Spies.

Dia bertemu WF Stutterheim yang mengajaknya meneliti candi-candi dan kebudayaan bendawi kuno Nusantara. Stutterheim, Mangkunegara VII dan guru tari klasik Jawa Pangeran Ario Tedjokusumo-putra Sultan Hamengkubuwono VII—boleh disebut mentor-mentor Claire Holt untuk memahami budaya Jawa. Dia juga menjadi murid tari Krido Bekso Wiromo-sekolah tari yang didirikan oleh Pangeran Tedjokusumo in 1918.  Claire menulis laporan berkala untuk Office of Strategic Services (belakangan menjadi Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat/CIA).

Tak lama, Claire bergabung dengan George McT. Kahin di Universitas Cornell di Ithaca dan ikut mendirikan "Proyek Modern Indonesia". Antara tahun 1930 sampai 1939, Claire sering tinggal di Jawa. Ia kembali untuk meneliti atas dukungan dana Rockefeller Foundation di tahun 1955-57. Terakhir ia mampir ke Indonesia pada tahun 1969. Tapi saat itu kondisinya sudah sakit-sakitan.  Ia wafat pada 29 Mei 1970. 

Lima puluh satu tahun setelah kematian Claire Holt dunia seni dan studi—studi arkeologi Indonesia telah berkembang. Pada waktu menulis bukunya, contoh-contoh seni prasejarah Indonesia yang dikemukakan Holt adalah gambar-gambar pada batu dan gua-gua di Papua, Kepulauan Kei, Seram, Sulawesi dan Kalimantan. Dalam buku itu dia masih menyebut umur gambar-gambar itu lebih muda dari gambar-gambar pada batu dan gua prasejarah di Eropa antara lain di Font de Gaume, Dordogne dan Altamira.

Sekarang data-data baru arkeologis menyingkap fakta bahwa gambar-gambar di gua-gua di Maros-Pangkep (Sulawesi Selatan) dan Sangkulirang (Kalimantan) lebih tua dari gua-gua seperti di Goa Lascaux Perancis atau goa manapun di dunia. Gambar-gambar figuratif-naratif anoa, babi hutan, dan lain-lain di Goa Leang Bulu Sipong 4 yang baru saja ditemukan ditaksir memiliki umur 44 ribu tahun.

Dengan kata lain,  gambar di Goa Leang Bulu Sipong 4 tersebut merupakan gambar tertua di dunia. Penemuan ini sebetulnya bisa mengubah catatan sejarah seni dunia. Topik-topik seperti inilah yang nanti akan menjadi bahasan dalam acara BWCF tahun ini.

Sang Hyang Kamahayanikan Award dan Srihadi Soedarsono 

Pada setiap kali penyelenggaraan BWCF, BWCF juga memiliki tradisi memberikan penghargaan kepada seorang tokoh yang dianggap memiliki dedikasi yang tinggi terhadap tema yang didiskusikan pada saat acara. Nama penghargaan itu adalah Sang Hyang Kamahayanikan Award. Nama award ini diambil dari sebuah kitab Buddhis asli Jawa kuno bernama Sang Hyang Kamahayanikan yang terkait erat dengan agama Buddha mazhab Tantrayana. Kitab ini berasal dari zaman Mpu Sindok abad 10 M tapi diperkirakan isinya sudah dari abad 8 M.

Dalam Tantrayana—terkandung ajaran yang mempertemukan manifestasi jasmaniah dan rohaniah melalui yoga guna mencapai tahap akhir berupa kesempurnaan batin dan pikiran untuk mencapai sang 'Jina', Sang pemenang atau Sang Penakluk.  Kitab Sang Hyang Kamahayanikan mengandung ajaran peribadatan dan ajaran untuk mencapai Sang Jina tersebut. Termasuk di dalamnya penjelasan filosofis untuk mengatasi dualisme "ada" dan “tiada”.

Dalam kitab itu terdapat uraian yang sangat rinci bagaimana seorang yogi menyiapkan diri di jalan spiritual, mulai fase pembaiatan hingga pelaksanaan peribadatan yang bertingkat-tingkat. Di situ disebutkan bahwa ajaran Tantrayana adalah laku meditasi terhadap Panca Tathagata.

Kita ketahui bahwa di teras atas Borobudur terdapat arca-arca yang menampilkan lima pantheon Buddha kosmis antara lain: sebagai representasi empat arah mata angin Aksobhya, Amoghasiddhi, Amitabha, Ratnasambhava, dan di tengah Vairocana. Kitab Sang Hyang Kamahayanikan penting untuk memahami candi Borobudur terutama berkaitan dengan penjelasan mengenai sistem lima Dhyani Buddha di teras atas Borobudur tersebut.

Sebagai kitab beraliran Mahayana-Tantrayana, Sang Hyang Kamahayanikan juga menempatkan mantra-mantra, diagram serta mudra dalam posisi sentral, sebagai bentuk formula rahasia yang bersifat mistis. Kendati Sang Hyang Kamahayanikan merupakan kitab keagamaan penting untuk memaknai Borobudur, namun nama kitab ini seolah dilupakan sejarah. Dengan alasan tersebut, Borobudur Writers & Cultural Festival sejak tahun 2012 mengambil nama Sang Hyang Kamahayanikan untuk nama sebuah award.

Mereka yang pernah dianugerahi Sang Hyang Kamahayanikan Award oleh BWCF antara lain:Alm. SH Mintardja, penulis cerita silat yang sangat produktif (2012), Alm. AB Lapian, sejarawan maritim yang telah memberikan kontribusi besar untuk sejarah bahari Nusantara (2013), Prof.Dr Peter Carey yang mendedikasikan 40 tahun waktunya untuk melakukan riset riwayat Pangeran Diponegoro dan sejarah perang Jawa (2014), Nigel Bullough atau Hadi Sidomulyo yang berjasa menelusuri desa-desa dan lokasi-lokasi yang tertulis di kitab Negara Kertagama (2015), Alm. Karkono Partokusumo Kamajaya dan Halilintar Latief (2016) . Alm Karkono adalah pendiri Javanologi yang memelopori alih aksara Serat Centhini dari huruf Jawa ke dalam aksara Latin yang menjadikan Serat Centhini menjadi lebih dikenal masyarakat luas.

Sementara Halilintar Latief berjasa atas pendampingan yang tak kenal lelah terhadap komunitas pandita Bugis kuno Bissu Sulawesi, yang merupakan komunitas penjaga ruh La Galigo, Prof. Dr. Noerhadi Magetsari, atas kajiannya tentang Borobudur yang berangkat dari studi terhadap teks suci Sang Hyang Kamahayanikan (2017), Dr. Tan Ta Sen, yang melakukan studi mengenai Laksamana Cheng Ho di nusantara dan mendirikan Museum Cheng Ho di Malaka (2018), Prof. Dr. Achadiati Ikram, atas studi-studinya terhadap manuskrip nusantara dan pembimbing bagi banyak para filolog Indonesia—sehingga disebut ibu para filolog Indonesia (2019), Dr Riboet Darmosoetopo, epigraf yang melakukan banyak pembacaan-pembacaan prasasti dan meneliti soal sejarah sima (tanah bebas pajak) di Jawa kuno (2020).

Untuk tahun ini,karena berkaitan dengan tema estetika, penghargaan akan kami berikan kepada pelukis kawakan Srihadi Soedarsono. Srihadi adalah pelukis yang tak habis-habisnya sejak masa muda melukis Borobudur. Borobudur dalam sapuan kanvas Srihadi terasa magis dan sublime. Bahkan di usianya yang ke 90 tahun sekarang ia tak berhenti untuk melukis Borobudur.Pidato penyerahan Sang Hyang Kamahayanikan award akan dibacakan oleh kritikus seni rupa Bambang Bujono dan budayawan Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ. Mereka berdua adalah kurator award. 

Dari Webinar, Lecture On line sampai Seni Pertunjukan Daring 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot