Bonus Demografi Terancam Bila Cukai Rokok Tidak Dinaikkan

Alfanny - Kamis, 8 Juli 2021, 8:32 WIB

Ilustrasi rokokIlustrasi rokok/pixabay

FIXJAKARTA.COM.   Bonus demografi yang saat ini seharusnya sedang dinikmati Indonesia menjadi terancam berlalu dan tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal bila konsumsi rokok tidak dikendalikan.  Kenaikan cukai rokok dinilai dapat membantu menurunkan konsumsi rokok masyarakat. Dengan demikian, resiko terkena penyakit tidak menular akibat mengonsumsi rokok serta resiko terganggunya perkembangan janin akibat ibu hamil yang terpapar asap rokok dapat diminimalisir yang pada gilirannya akan mampu menciptakan generasi muda Indonesia yang sehat dan produktif.   

Wacana tersebut terungkap dalam Webinar Nasional dengan tema “Menyongsong Indonesia Emas 2045: Peningkatan Kualitas SDM dan Pembangunan Kesehatan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS FEB UI) bersama dengan International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union) pada Senin 5 Juli 2021.

Webinar tersebut menghadirkan Prof. Sri Moertiningsih A. (Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI sekaligus Peneliti Adjunct di Lembaga Demografi FEB UI), Prof. Ascobat Gani (Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia), Prof. Yayi S. Prabandari (Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM) sebagai Pembicara. Beberapa anggota dewan DPR RI juga turut diundang sebagai penanggap diantaranya Ibu Dr. Hj. Netty Prasetyani, M.Si dari Komisi IX dan Badan Anggaran DPR RI serta Bapak Rizki Natakusumah yang merupakan anggota dewan Komisi I DPR RI.

Setidaknya terdapat 120 peserta webinar yang berasal berbagai daerah dari seluruh Indonesia dan berbagai kalangan mulai dari akademisi, peneliti, pegawai pemerintah dan dinas kesehatan, politikus, rekan media hingga mahasiswa.

Pada webinar tersebut, Prof. Prof. Sri Moertiningsih A. mengatakan bahwa peluang dari bonus demografi harus bisa dimanfaatkan untuk intervensi pembangunan manusia. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah dengan memperiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sejak dini yakni sejak 1000 hari pertama kehidupan (HPK) atau sejak ibu hamil mengandung anaknya. Hal tersebut dikarenakan perkembangan kognitif pada anak dimulai ketika 1000 HPK dimulai.

"Ibu yang sedang mengandung dapat menjaga pemenuhan gizinya dan menjaga pola hidup sehat dengan tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok yang dapat mengganggu pertumbuhan janin," papar Sri Moertiningsih dalam rilis yang diterima FIXJAKARTA.COM pada Rabu 7 Juli 2021. 

Sementara itu, Prof. Ascobat Gani juga menambahkan bahwa pembangunan SDM yang berkualitas dapat dilakukan dengan berfokus pada sistem kesehatan yang memerhatikan the current stock human capital (penduduk usia 0 - 20 tahun) dan the future stock human capital (penduduk usia 20 – 55 tahun). Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga mutu the current stock human capital ialah dengan menyediakan tenaga kesehatan dan sarana prasanaran kesehatan yang memadai dan merata di seluruh wilayah di Indonesia, mengalokasikan pembiayaan promosi kesehatan yang lebih besar dan redistribusi peserta JKN dari puskesmas ke klinik swasta agar puskesmas tetap dapat berfokus pada promotif preventif.

"(Juga) menurunkan prevalensi merokok mengingat 60% penjualan rokok berasal dari masyarakat yang berada di kuintil pendapatan 1-3," tandas Ascobat Gani. 

Pada sesi terakhir, Prof. Yayi S. Prabandari menyampaikan bahwa strategi untuk perubahan perilaku dalam promosi kesehatan dapat dilakukan melalui informasi, pemasaran, insentif, restriksi, indoktrinasi dan peraturan yang dilakukan oleh individu, kelompok, faskes, sekolah, dll.  Selain itu untuk menghasilkan SDM yang berkualitas diperlukan perencanaan dan strategi promosi kesehatan yang komprehensif, kerjasama lintas sektor dan pemangku kepentingan.

"Kita perlu bergandeng tangan dengan semua pihak dari berbagai bidang dan tidak hanya dari sisi kesehatan, karena persoalan kesehatan ini ditentukan oleh banyak sisi," urai Prabandari. 

Ibu Dr. Hj. Netty Prasetyani, M.Si pada akhir acara mengatakan bahwa beliau dan rekan-rekan lainnya di Komisi IX DPR selalu mengingatkan pemerintah bahwa gerakan masyarakat sehat atau GERMAS bukan hanya sekedar jargon, diperlukan breakdown lebih lanjut mengenai apa-apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

"Ke depan harus ada upaya-upaya terobosan termasuk juga kreativitas untuk terus melakukan efisiensi dan efektivitas anggaran utamanya dalam konteks menjamin kesehatan bagi seluruh warga negara dan menjamin jaminan sosial bagi seluruh masyarakat," pungkas Netty. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot