Bahas Relasi Agama dan Pendidikan, Sekum Muhammadiyah Abdul Mu'ti Hadiri Forum Pemimpin Agama di Vatikan

Sukarno | Abdul Rohman - Jumat, 8 Oktober 2021, 16:43 WIB

Sekum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti bersama Perwakilan dari Gereja Koptik OrtodoksSekum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti bersama Perwakilan dari Gereja Koptik Ortodoks/@Abe_Mukti

FIXJAKARTA.COM - Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta Prof. Dr. Abdul Mu’ti, MA menjadi satu-satunya wakil dari seluruh kawasan Asia Tenggara dalam forum pertemuan para pemimpin agama dunia di Vatikan, pada Selasa lalu 5 Oktober 2021.

Prof. Abdul Mu’ti berada satu meja dengan pemimpin Katolik dunia Pope Francis dan Mufti Agung Al-Azhar Syaikh Ahmad al-Tayyeb dan 15 tokoh agama dunia. Pertemuan atau forum ini dirancang untuk mempromosikan sekaligus merancang kesepakatan bersama tentang pendidikan dunia yang inklusif, yang berdampak pada perdamaian seluruh umat manusia di masa depan.

Forum pertemuan The Representatives of Religions saat ini diselenggarakan bertepatan dengan hari Guru Internasional yang telah ditetapkan UNESCO sejak 1994.

Dalam forum bertajuk Religions and Education: Toward a Global Compact on Education itu, Prof. Abdul yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan ceramah tentang paradoks antara peran besar yang diemban guru sekaligus kesejahteraan dan keamanan hidup mereka yang tidak terjamin.

“Dengan dedikasi penuh, guru bekerja sepenuh hati untuk siswanya. Untuk dedikasi ini mereka mengorbankan waktu, tenaga, keluarga, dan hidup. Untuk menemui siswa, guru harus tinggal di daerah terpencil dengan fasilitas yang sangat minim. Ada guru di kamp-kamp pengungsi. Ada situasi di mana guru harus mengajar di tengah perang,” kata Mu’ti sebagaimana dikutip FIXJAKARTA.COM.

“Dari sudut pandang agama, guru memiliki misi profetik sebagai ‘utusan’ Tuhan yang memegang, mengajar, dan mengubah ajaran agama ke dunia,” tutur Mu’ti.

Pada kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga menyampaikan bahwa banyak permasalahan yang dialami oleh guru.

“Namun kondisi guru belum sesuai dengan kontribusinya. Guru di banyak negara, dibayar di bawah standar. Ada guru yang hidup dalam kondisi ekonomi yang buruk. Apresiasi kepada guru baik sebagai pribadi maupun profesional masih kurang memuaskan. Guru menjadi korban kekerasan, dihukum, dan sebagainya. Akibat kondisi tersebut, generasi muda kurang berminat menjadi guru,” imbuhnya.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot