Bagi Penyintas Covid-19, Waspadai Infeksi Jamur Hitam

Sukarno | Abdul Rohman - Sabtu, 24 Juli 2021, 17:18 WIB

Ketua Satgas COVID-19 IDI, Prof. Zubairi DjoerbanKetua Satgas COVID-19 IDI, Prof. Zubairi Djoerban/@ProfesorZubairi

FIXJAKARTA.COM - India mencatat lebih dari 45.000 kasus "jamur hitam" yang mematikan selama dua bulan terakhir. Kondisi wabah ini melanda mayoritas pasien COVID-19.

Pemerintah setempat melaporkan melalui Menteri Kesehatan Mansukh Mandaviya, sedikitnya ada 45.374 kasus infeksi yang berbahaya ini.

Selain India, terdapat negara lain yang warganya terdampak penyakit ini. Diantaranya adalah Chile, Meksiko, Uruguay, Mesir, dan Irak.

Infeksi jamur hitam yang disebut mucormycosis berasal dari golongan Mucormycetes seperti Rhizopus spp, Mucor spp, Rhizomucor spp, Cunninghamella bertholletiae, Apophysomyces spp, dan Lichteimia. Infeksi mucormycosis terjadi melalui kontak dengan spora atau elemen jamur yang biasanya ditemukan di tanah, tanaman, kotoran hewan, sayuran dan buah-buahan yang membusuk.

Penyakit akibat jamur ini menginfeksi sinus, otak, dan paru-paru, sehingga dapat mengancam nyawa pasien. Biasanya menyerang 12-18 hari setelah pasien Covid-19 pulih dari penyakitnya.

Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lembaga pengendalian wabah Amerika Serikat, gejala mukormikosis bisa berbeda-beda tergantung tipe infeksi jamur hitam mana yang menyerang.

Di antara gejala umum infeksi jamur hitam tersebut yaitu mual dan muntah, sakit perut, demam, batuk, sakit kepala, nyeri dada, sesak napas, hidung tersumbat, hingga pembengkakan wajah satu sisi. Yang terparah, infeksi jamur hitam ini memiliki tingkat kematian sebesar 50 persen.

Mucormycosis sebelumnya dianggap sangat jarang, tetapi kasus telah membengkak selama pandemi COVID-19, biasanya menyerang pasien setelah pemulihan dari COVID-19.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot
terkait