Apakah Pelaku Sexual Abuse Boleh Dimaafkan? Ini Pendapat Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Ade Iva Wicaksono

Alfanny - Senin, 6 September 2021, 9:42 WIB

Ade Iva WicaksonoAde Iva Wicaksono/wantannas.go.id

FIXJAKARTA.COM.  Keluarnya artis Saiful Jamil (SJ) dari penjara yang langsung disambut meriah sebagian penggemarnya dan ditayangkan khusus di sejumlah stasiun TV mendapatkan respoon negatif dari netizen.  Sebagian besar netizen menyesalkan penyambutan yang berlebihan terhadap SJ yang dipenjara karena kasus perundungan seksual. 

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Ade Iva Wicaksono menulis thread singkat di akun twitternya @ivarivai1992 tentang fenomena tersebut.  

"Ini thread singkat mengenai apakah masyarakat boleh menerima kembali seorang pelaku perundungan sexual dan membiarkannya menjalani hidup normal? Saya ingin memberikan pemahaman yang penting diketahui bersama," tulis Ade di akun twitternya pada Minggu 5 September 2021 yang dikutip FiXJAKARTA.COM. 

"Ketika artis SJ keluar dari penjara setelah menjalani hukuman karena sexual abuse terhadap anak-anak dan  dielu-elukan stasiun-stasiun TV, banyak masyarakat yang marah. Betulkah pelaku sexual abuse tidak boleh dimaafkan dan tidak boleh diberikan kesempatan menjalani hidup produktif?" tanya Ade

Ade kemudian melanjutkan bahwa pertama, pemaafan seorang pelaku sexual abuse HANYA BISA DILAKUKAN KORBAN, bukan masyarakat. Korban mengalami trauma dan hanya korbanlah yang boleh menentukan pemaafan terhadap pelaku. Studi Prieto-Ursua (2021) membahas hal ini.

"Kedua, pemaafan dan penerimaan pelaku BUKAN OLEH KORBAN dapat berarti jaminan untuk menekan korban agar tetap diam, gangguan terhadap kesejahteraan korban dan yang mengerikan adalah melepaskan pelaku perundungan seksual dari tanggung jawab. Mengerikan akibatnya,"tambahnya. 

"Ketiga, jadi boleh dimaafkan atau tidak? Pemaafan adalah proses yang sangat personal, seorang korban (dan keluarganya) tidak bisa dipaksa untuk memaafkan dan menerima korban. Apa yang telah dilakukan stasiuns-stasiun TV dengan memberikan kesempatan SJ muncul di TV melanggar hak-hak korban kekerasan seksual.

Menurut Ade, Preventing Sexual Violence (La Fond, 2005) tegas menyatakan bahwa hak warga masyarakat untuk hidup aman dari kekerasan seksual harus dijamin. Dengan mberikan penerimaan tanpa batas seperti dilakukan stasiun-stasiun TV Indonesia, ini artinya pelanggaran terhadap hak-hak warga masyarakat, jadi kemarahan warga sangat wajar.

"Itu mengapa di beberapa negara, semua sex offenders yang sudah keluar penjara harus didaftarkan (mandatory registration) dan negara mengadakan community protection program dimana si predator berada," tambahnya. 

"Sekarang kita lihat bagaimana Stasiun-stasiun TV di Indonesia melanggar hak-hak korban dan masyarakat padahal, semua pelaku sex offenders harus tetap dianggap sex offenders meski dia sudah jalani hukuman penjara (La Fond, 2005)," lanjutnya

Ade menambahkan bahwa masyarakat berhak menuntut agar pelaku sexual abuse seperti SJ diberikan hukuman tambahan seperti menjauhkan ia dari media yang dapat mempengaruhi masyarakat luas. 

"Pelaku sexual abuse tidak boleh dimaafkan, kecuali si korban sendiri dengan kemauannya sendiri, tanpa paksaan. Selanjutnya, semestinya ada petisi agar pemerintah mengeluarkan aturan," lanjutnya. 

Selanjutnya, menurut Ade semestinya ada petisi agar pemerintah mengeluarkan aturan mandatory registration dan community protection program dimana pelaku sexual abuse berada. Kementrian dan seluruh lembaga negara yang terkait hal ini serta masyarakat dapat menginisiasi ini bersama-sama. 

"Terakhir, Stasiun-stasiun TV Indonesia ternyata adalah unit-unit bisnis yang SAMA SEKALI TIDAK PUNYA TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI MASYARAKAT dari pelaku sexual abuse, serta kemungkinan pelaku ketika tampil di TV MENGINSPIRASI CALON-CALON OFFENDERS lainnya untuk melakukan kejahatan seksual," tandas Ade

Ade berpendapat bahwa akan timbul kesan dari masyarakat: "Gapapa koq, nanti diterima seperti abang SJ".

"Sungguh masalah ini tidak main-main beratnya, tapi saya rasa Stasiun-stasiun TV sama sekali tidak peduli dengan hal-hal begini. Jadi masyarakat harus lebih aktif, melindungi diri dan keluarganya, khususnya anak-anak, dari perilaku sexual abuse," pungkas Ade mengakhiri cuitannya. 

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot