Apa Itu Keheningan?

Alfaryandi - Jumat, 10 September 2021, 21:18 WIB

Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI)Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI)

Oleh: Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI)

FIXJAKARTA.COM - Sudah lama saya berpikir agak keras: apa itu keheningan? Apakah itu suatu kondisi ketika kita tidak mendengar suara dari luar diri sama sekali? Kalau demikian, bagaimana kita mencapai itu?

Dalam gambaran yang sering muncul di postingan media sosial, keheningan adalah saat ketika perempuan kelas menengah sedang yoga di atas matras dengan latar semburat matahari pagi yang menenangkan. Atau, jika mau lebih religius, keheningan adalah pose laki-laki mapan sedang menengadahkan tangannya di atas sajadah. Betulkah demikian?

Mungkin iya, tetapi mungkin saja tidak. Namun, cukup pasti, keheningan dalam gambaran seperti itu adalah sesuatu yang modern. Keheningan hanya bisa dicapai orang mereka yang telah memeluk kemoderenan.

Inilah masalahnya. Apakah sebelum kemoderenan tidak ada keheningan? Tentu ada, tetapi itu hanya jalan yang ditempuh para pertapa di gua-gua. Masyarakat biasa tidak menjalankannya.

Kemoderenan memberikan pembenaran bahwa keheningan bisa dilakukan oleh siapa pun. Ini tidak lepas dari misi agung kemoderanan yang memberi bobot tinggi pada otonomi diri. Melalui aktivitas intelektual yang disebut membaca, silent reading, manusia modern bisa mengambil jarak dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi itulah keheningan dimungkinkan terjadi.

Maka, setidaknya di media sosial, wacana tentang keheningan hampir pasti datang dari kalangan terpelajar yang memang hingga tahap tertentu mempunyai ketidaksukaan terhadap kerumunan--masyarakat, agama, negara, dan seterusnya. Bagi mereka, keheningan adalah menjadi diri sendiri. Mereka percaya suara hati yang bersumber di dalam diri itu sungguh ada.

Akan tetapi, karena itu pula, keheningan pada dasarnya membutuhkan syarat material. Keheningan adalah milik mereka yang telah mempunyai rumah dengan kamar lebih dari dua, bisa berlibur untuk retreat ke Ubud, atau bisa membayar kelas yoga di Kemang dan sekitarnya. Bukankah sulit membayangkan keheningan akan datang menyapa kita di rumah petak kontrakan yang sempit di mana para tetangga saling berteriak satu sama lainnya?

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot