Anggota DPR Arzetti Bilbina Kritisi Kemenkes Impor 1 Juta Tablet Obat Covid-19 jenis Molnupiravir

Alfanny - Rabu, 10 November 2021, 6:50 WIB

Anggota DPR Arzetti Bilbina Kritisi Kemenkes Impor 1 Juta Tablet Obat Covid-19 jenis MolnupiravirAnggota DPR Arzetti Bilbina Kritisi Kemenkes Impor 1 Juta Tablet Obat Covid-19 jenis Molnupiravir/Istimewa

FIXJAKARTA.COM.  Rencana Kemenkes untuk membeli obat antivirus Covid-19 jenis Molnupiravir sebagai antisipasi dan mitigasi gelombang ketiga Covid-19 dikritisi anggota DPR Arzetti Bilbina yang mendorong pemerintah mengutamakan obat produksi dalam negeri. 

"Kami mendorong Kemenkes untuk mengutamakan produk dalam negeri dalam penangan pandemi Covid-19," ujar Arzetti dalam raker bersama Menkes, BPOM, Satgas Covid-19 dan Biofarma pada Senin 8 November 2021 sebagaimana dilansir situs DPR yang dikutip FIXJAKARTA.COM. 

Arzetti mendorong Kemenkes untuk mengutamakan produk dalam negeri dalam penanganan pandemi Covid-19, yaitu  obat dan vaksin yang telah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM RI. Arzetti juga mendesak pemerintah agat mengutamakan alat kesehatan yang telah mendapatkan izin edar dari Kemenkes guna meningkatkan ketahanan sistem kesehatan nasional.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi menyampaikan pemerintah Indonesia akan membeli 600 ribu hingga 1 juta tablet obat Molnupiravir dari Amerika Serikat demi mengantisipasi adanya gelombang ketiga Covid-19.

“Kemarin kami sudah ke Amerika, deal dengan Merck (perusahaan farmasi). Rencananya kami akan beli dulu sementara 600 ribu sampai 1 juta tablet bulan Desember. Jadi mempersiapkan diri, mudah-mudahan tidak terjadi (gelombang ketiga Covid-19). Tapi kalau terjadi seenggaknya kami punya stok obatnya dulu,” ungkapnya. 

Baca Juga: https://jakarta.fixindonesia.com/berita/tetap-taat-aturan-baru-ppkm-pemerintah-prediksi-gelombang-ketiga-covid-19-saat-liburan-natal-dan-tahun-baru/HTehTBTMRP8ooy9Ug77LEJ

Budi berharap dalam jangka menengah, Indonesia dapat memproduksi sendiri Molnupiravir dengan terlebih dahulu mengajukan hak paten obat tersebut melalui jalur United Nation pada badan khusus yang menangani yakni medicines patent pool. Pengajuan hak paten tersebut saat ini kata Budi sedang dalam proses finalisasi. 

Beberapa perusahan yang mengajukan hak paten di antaranya adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta.

“Syukur kalau bisa cepat kemungkinan tahun depan kita bisa bikin (Molnupiravir) ini disini sehingga memperkuat sistem kesehatan kita,” pungkas Budi

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot