Ancaman PHK Melanda, Ketum PKB: Perlu Insentif bagi Pelaku Usaha

Dwi Saputro Nugroho - Selasa, 6 Juli 2021, 8:38 WIB

Ilustrasi Ketum PKBIlustrasi Ketum PKB

FIXJAKARTA.COM - Pemberlakuan PPKM Darurat pada 3-20 Juli 2021 di satu sisi untuk menurunkan angka terpapar Covid, di sisi lain berpotensi berdampak pada dunia usaha. Pada sektor non esensial misalnya dimana diterapkan WFH 100 %, untuk pelaku usaha di sektor ini bisa berpotensi gulung tikar, seperti sektor ritel dan restoran. Akibatnya, pengusaha akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan demi menyelamatkan usahanya.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), Abdul Muhaimin Iskandar (Gus AMI) meminta pemerintah memberikan perhatian khusus kepada lapangan usaha yang paling terdampak PPKM darurat. Langkah ini dinilai Gus AMI penting dilakukan agar tidak ada gelombang baru pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi telah merilis Dokumen Panduan PPKM Darurat, dimana pusat perbelanjaan atau mal dan pusat perdagangan ditutup, sementara restoran hanya bisa melayani pesan antar. 

"Untuk sektor-sektor ini harus diperhatikan betul. Kalau perlu kasih mereka insentif agar tetap bisa bertahan. Dan jangan tambah beban pelaku usaha, tapi sebaliknya harus diringankan," ujar Gus AMI kepada Reporter FIX.JAKARTA.COM.

Ketum PKB yang juga mantan Menteri Ketenagakerjaan itu mengatakan sektor manufaktur juga perlu diberi stimulus baru dalam berbagai bentuk, baik itu berupa pinjaman berbunga rendah, penjaminan kredit hingga insentif pajak.

"Tujuannya bukan agar mereka berekspansi, melainkan agar mereka tidak melakukan PHK karyawan dan melakukan perekrutan kembali," kata Gus AMI lebih lanjut.

Menurut Gus AMI, untuk mengurangi risiko pandemi pengusaha sektor manufaktur akan lebih memilih untuk menggunakan sedikit tenaga kerja dan menambah kapasitas mesin.

Selain itu, hal yang tak kalah penting untuk mencegah PHK selama penerapan PPKM Darurat adalah memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot