Aktivis HAM Ken Budha Kusumandaru: PKI Salah, Tapi Diskriminasi terhadap Eks-PKI Juga Salah

Sukarno | Abdul Rohman - Jumat, 1 Oktober 2021, 18:00 WIB

Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta TimurMonumen Pancasila Sakti Merepresentasikan Para Jenderal yang Menjadi Korban Kekejaman PKI, Lubang Buaya, Jakarta Timur/flickr.com

FIXJAKARTA.COM - Atas nama pembelaan terhadap pembunuhan para perwira pada malam jahanam 1965 dan kengerian jika PKI berkuasa, membuat sebagian masyarakat untuk menghabisi orang-orang yang terlibat komunisme. Kebanyakan dari mereka adalah orang tidak bersalah, namun mereka dibunuh, disiksa, dan ditangkap tanpa pengadilan yang membuktikan kesalahannya secara jelas.

Saat ini persoalan korban pasca peristiwa G30S PKI terus menjadi sorotan sejumlah pihak, meski peristiwa tersebut sudah lewat setengah abad yang lalu. Stigma dan diskriminasi masih melekat kepada para penyintas '65.

Aktivis HAM Ken Budha Kusumandaru menyorot perlakuan masyarakat pasca tragedi '65 yang masih berpikir semena-mena dan brutal terhadap para penyintas 65.

"Aku paham bahwa banyak orang tidak suka dengan komunisme, bahkan benci setengah mati. Tapi kebencian itu tidak boleh jadi alasan untuk eksekusi sewenang-wenang, penyiksaan, atau diskriminasi," tulis Ken dalam akunnya @kenndary, seperti yang dikutip FIXJAKARTA.COM, Jumat 1 Oktober 2021.

Ia menyebut para pimpinan G30S PKI melakukan kesalahan. Namun, kesalahan yang diperbuatnya tidak berarti harus menerima diskriminasi.

"Yang dilakukan pimpinan PKI lewat G30S adalah salah. Sudah wajar pelakunya ditangkap dan dihukum, bahkan dihukum mati. Yang tidak wajar adalah orang-orang yang tidak terlibat dalam gerakan itu ikut disiksa, dibunuh, dipenjara tanpa pengadilan, dan didiskriminasi sampai sekarang," cuitnya.

Menurut Ken, PKI jelas salah. Tetapi perlakuan buruk terhadap anggota PKI juga salah. Ia mengambil contoh gerakan DI/TII dan terorisme dinilainya dapat menjadi analogi kemanusiaan terhadap persitiwa '65.

"Jika masih ada orang yang anggap perlakuan terhadap PKI dan anggota PKI sebagai wajar, kita bisa ambil paralel dengan DI/TII: karena sebagian ulama berontak, semua umat Islam akan disiksa, dibunuh, dipenjara tanpa pengadilan, dan didiskriminasi," katanya.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot