Aksi Kamisan: Perspektif Sastra Politik

Dwi Saputro Nugroho - Rabu, 8 September 2021, 13:05 WIB

null/@AksiKamisan

FIXJAKARTA.COM. Tragedi Mei 1998 adalah rangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei 1998 di Indonesia. Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK) pernah menyampaikan data bahwa Tragedi Mei 1998 telah menelan korban 1.217 jiwa (Zein, 2005).

Peristiwanya antara lain: amuk massa di berbagai kota di Indonesia, kekerasan terhadap perempuan terutama etnis Tionghoa, juga penjarahan, terutama, di Jakarta. 

Ketika Peristiwa ini terjadi, Indonesia tengah terpuruk secara ekonomi. Akibat imbas krisis mata uang di kawasan Asia Tenggara, nilai mata uang rupiah secara perlahan terus merosot jauh dibandingkan dengan dollar Amerika.

Krisis yang sudah dimulai sejak Juli 1997 telah menciptakan sejumlah krisis di Indonesia. Banyak pabrik gulung tikar karena mahalnya suku cadang. Akibatnya banyak buruh di PHK. Banyaknya pengangguran baru menimbulkan kerawanan sosial. Hal ini juga ditambah dengan langkanya bahan- bahan kebutuhan pokok.

Pada pertemuan hari Selasa, 9 Januari 2007, bersama KontraS dan JRK, disepakati untuk mengadakan suatu kegiatan untuk memperjuangkan penuntasan kasus pelanggaran HAM. Sebuah kegiatan berupa ‘Aksi Diam’ sekali dalam seminggu menjadi pilihan bersama. Bahkan disepakati pula mengenai hari, tempat, waktu, pakaian, warna, dan maskot sebagai simbol gerakan. Dilansir dari berbagai sumber, Aksi Kamisan ini menitikberatkan pada aksi diam disertai payung hitam bertuliskan tuntutan-tuntutan penyelesaian kasus. Aksi ini juga disebut Aksi Payung Hitam.

Aksi Kamisan sendiri dilatar belakangi dari sikap pemerintah yang dirasa semakin mengabaikan penyelesaian HAM. Pemerintah yang terus diam menyikapi kasus-kasus pelanggaran HAM berat menjadi dorongan aktif keluarga korban dan para aktivis dalam menyuarakan aspirasinya.

Aksi Kamisan telah berlangsung selama 13 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, aksi damai ini telah melewati dua rezim pemerintahan di Indonesia, era presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko “Jokowi” Widodo. Lebih dari 643 aksi di depan Istana Negara dan 594 surat telah dikirim kepada kedua pemerintahan tersebut.

Entitas khas yang berupa bahasa yang diucapkan pada saat aksi serta penampilan dan cara berpakain yang serba hitam yang merepresentasikan bentuk kekuatan dan keteguhan hati terhadap ilahi yang akan terus konsisten dalam menuntut pelanggaran HAM di Indonesia yang sampai sekarang belum di usut tuntas.

Editor: Abdul Rohman

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot