Ada Orang Yahudi di Balik Krisis Ekonomi 98?

Alfanny | Sukarno - Jumat, 21 Mei 2021, 22:07 WIB

Krisis ekonomiKrisis ekonomi/pixabay

FIXJAKARTA.COM.  Di bulan Mei ini, Indonesia mengenang reformasi. Pada bulan ini tanggal 12 Mei, meletus suatu insiden yang menewaskan beberapa mahasiswa. Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 21, presiden Soeharto mundur menguat.


Reformasi '98 ini bermula dari krisis moneter, berlanjut ke krisis ekonomi, merembet ke krisis politik, kemudian akhirnya krisis multidimensi. Melihat titik awal krisis adalah krisis moneter, lantas apa krisis moneter itu?

Diambil dari buku Monetary Policy Strategy (2007) karya Frederic S Mishkin, krisis moneter adalah krisis yang berhubungan dengan keuangan suatu negara. Gejalanya berupa keadaan keuangan yang tidak stabil akibat lembaga keuangan dan nilai tukar mata uang yang tidak berfungsi sesuai dengan harapan.  Nah sesuai dengan definisi yang ringkas tersebut, krisis moneter berarti pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar yang saat itu memainkan peranan penting dalam perekonomian negara.

Disinilah ada peran George Soros, seorang ekonom keturunan Yahudi Hungaria yang amat berpengaruh dalam kancah moneter global. Dia adalah aktor utama dari luar negeri yang diterangai memainkan ekonomi Indonesia sampai terseok-seok.  Jauh sebelum krisis 98 terjadi, Soros diterangai sebagai aktor utama 'Black Wednesday' tahun 1992 di Inggris. Saat itu nilai poundsterling tiba-tiba saja jatuh. Bank of England sebagai bank sentral Inggris kewalahan menghadapi langkag-langkah spekulan Soros dalam memainkan valuta. Akibatnya Inggris mengalami resesi ekonomi. Pemerintah Inggris kehilangan banyak uang dari kegagalannya mempertahankan nilai poundsterling.

Dalam konteks krisis Indonesia, mulanya adalah serangan Soros terhadap Baht Thailand. Soros menganggap Baht dapat menjadi komoditas valuta yang menguntungkan karena ia mengendus adanya devaluasi apabila Baht diborong. Dengan modal kurang dari 1 miliar Baht, Soros melalui perusahaannya Quantum Fund, berspekulasi melalui pinjaman Baht tapi dalam bentuk dollar. Akibat dari spekulasinya itu nilai Baht dihadapan dollar menurun, disitulah ia kemudian menjual kembali dollar yang kini harganya tinggi. Hasilnya tak main-main: Soros mendapati keuntungan sebesar 12 miliar baht dari modal awal 1 miliar yang diperolehnya dengan meminjam.

Layaknya permainan biliard, Soros memukul bola ekonomi Thailand, kemudian memantulkan potensi krisis ke sejumlah negara, seperti Malaysia, dan Korea Selatan. Rupiah menjadi mata uang yang paling parah terkena dampak spekulasi moneter yang dimainkan Soros. Realitas sejarahnya kemudian kita semua tahu: krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Harga-harga barang naik dan banyak orang yang di PHK. Tak cukup sampai disitu, krisis ekonomi menimbukan krisis politik. Akhirnya krisis multidimensi komplit melanda Indonesia. (ano/diolah dari berbagai sumber)

Editor: Alfanny

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terpopuler
sorot